Main Article Content
Abstract
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji dampak kerusakan lingkungan pesisir terhadap perempuan di Majene melalui perspektif ekofeminisme, serta kaitannya dengan penegakan hukum lingkungan. Krisis ekologis di Majene meliputi abrasi pantai, pencemaran laut akibat sampah, praktik penangkapan ikan yang merusak, serta penurunan hasil tangkapan ikan berdampak besar pada perempuan, terutama dalam konteks budaya Sibaliparri yang menempatkan mereka sebagai pengelola rumah tangga sekaligus perekonomian keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan memperburuk kerentanan ekonomi perempuan, meningkatkan beban domestik, serta menimbulkan tekanan psikologis akibat ketidakpastian lingkungan dan infrastruktur yang tidak memadai. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini memanfaatkan wawancara, diskusi kelompok terfokus, dan observasi lapangan di empat kecamatan pesisir. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa meskipun perempuan berperan penting dalam mitigasi lingkungan, peran mereka masih sering terhambat oleh budaya patriarki, minimnya infrastruktur, serta lemahnya tata kelola lingkungan. Dari sisi hukum, respon pemerintah daerah, termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPA), lebih banyak terbatas pada edukasi dan penyuluhan. Penegakan hukum terhadap praktik penangkapan ikan destruktif, pencemaran, maupun pengelolaan sampah masih lemah. Regulasi yang ada, seperti Perda Kabupaten Majene Nomor 12 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, belum diimplementasikan secara optimal. Ketiadaan sarana pengelolaan sampah yang memadai, memperburuk ketidakadilan ekologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerusakan pesisir Majene bukan hanya krisis ekologi, melainkan juga ketidakadilan gender. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi, perbaikan infrastruktur lingkungan, serta pelibatan aktif perempuan dalam proses pengambilan keputusan untuk mewujudkan keberlanjutan ekologi dan keadilan gender.
Kata kunci: ekofeminisme; hukum lingkungan; kerusakan pesisir; Majene; perempuan
ABSTRACT
This study examines the impact of coastal environmental degradation on women in Majene through an ecofeminist lens, as well as its relationship to environmental law enforcement. The ecological crisis in Majene encompassing coastal abrasion, marine pollution from waste, destructive fishing practices, and declining fish catches significantly affects women, particularly within the Sibaliparri cultural context, where they manage both the household and the family economy. The findings indicate that environmental degradation exacerbates women's economic vulnerability, increases their domestic burden, and causes psychological stress due to environmental uncertainty and inadequate infrastructure. Employing a descriptive-analytical qualitative approach, the study utilizes interviews, focus group discussions, and field observations across four coastal districts. The results reveal that although women play a crucial role in environmental mitigation, their contributions are often hindered by patriarchal culture, a lack of infrastructure, and weak environmental governance. From a legal perspective, the local government's response has been largely limited to education and outreach; enforcement against destructive fishing practices, pollution, and poor waste management remains weak. Existing regulations such as Majene Regency Regional Regulation No. 12 of 2012 concerning the Spatial Plan have not been optimally implemented. The absence of adequate waste management facilities further exacerbates ecological injustice. The study concludes that coastal degradation in Majene represents not only an ecological crisis but also an issue of gender injustice. Therefore, strengthening regulations, improving environmental infrastructure, and actively involving women in decision-making processes are essential to achieving ecological sustainability and gender justice.
Keywords: coastal degradation; ecofeminism; environmental law; Majene; women
Keywords
Article Details
Copyright (c) 2026 Sitti Mutmainnah Syam, Fitriani Sari Handayani Razak

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.